Majalah Human Capital » Edisi Terbaru » Fokus

 

Cerdas dan Cerdik Menyikapi Krisis

Edisi 62 Mei 2009

Dalam menghadapi krisis ekonomi setiap individu dituntut untuk bersikap bijak dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Berjiwa besar dan senantiasa bersyukur sangat membantu dalam melewati kondisi sesulit apapun.

Selalu ada hikmah di balik setiap krisis,” demikian Aidil Akbar mengingatkan. Pernyataan tersebut dimaksudkan sang wealth planner ini untuk mengajak individu membiasakan diri merancang keuangan sejak dini. Menurutnya, hal ini dapat menumbuhkan good money habit alias kebiasaan yang baik dalam mengelola keuangan pribadi maupun keluarga.

Persoalan krisis maupun survei gaji yang muncul setiap tahun, lanjut Akbar, selalu menjadi persoalan klasik. Karyawan yang berpikiran sempit selalu membandingkan dirinya agar bisa mendapatkan sesuatu yang lebih tanpa melihat kondisi perusahaan. Parahnya, bila keinginan karyawan tidak dituruti, jalan demonstrasi dan mogok kerja sering menjadi senjata pamungkas.

Akbar berpendapat, pokok persoalannya bukan terletak pada berapa besar gaji yang diterima, tapi bagaimana seseorang mengelola uang yang didapatnya. “Kalau dia tidak mempunyai pegangan dan tujuan financial jangka pendek maupun jangka panjang, berapapun uang yang diterima dari kenaikan gajinya, 10%-50% akan hilang begitu saja,” kata Akbar berani memastikan.

Dalam pandangannya kondisi ini merupakan tantangan orang-orang HR. “Orang HR bisa memberi motivasi kepada karyawan agar rajin bekerja dan mendorong untuk high-achievement. Tapi setelah mereka mendapatkan uang, apa yang harus dilakukan? Kemana mereka membelanjakan uangnya? Di sinilah pentingnya pengetahuan soal mengelola uang,” paparnya.

Akbar melanjutkan, kalau karyawan dibuka wawasannya soal financial planning, otomatis dia tidak akan boros. Setiap rupiah akan disimpan dan kalau mereka tidak boros, berarti mereka bisa mengelola keuangan dengan baik. “Kalau sudah bisa mengelola keuangan dengan baik, berarti kenaikan gaji 10% atau 50%, tidak lagi menjadi masalah,” katanya.

Senada dengan Akbar, Managing Director Kurnia Consulting Sri Khurniatun, berbagi cara agar bisa survive di tengah kondisi perusahaan yang sedang labil. Sri menyarankan karyawan untuk menumbuhkan karakter intrapreneurship di dalam dirinya. “Lakukan terobosan baru dalam inovasi produk atau jasa, promosi dan lain-lain, sehingga bisa menyelamatkan perusahaan. Saat ini dibutuhkan karyawan yang multitalenta dan multitasking serta memiliki sense of belonging yang tinggi di perusahaan,” tuturnya.

Kepada karyawan, Sri mengajak untuk berpikir ulang dan meninjau setiap pengeluaran yang dilakukan. “Saat ini hal-hal prioritaslah yang seharusnya diutamakan, dan tundalah keinginan-keinginan yang belum mendesak. Faktor gengsi kalau tidak beli barang bermerk, atau memuaskan hobi yang membuat pengeluaran membengkak kita tepiskan dahulu,” ujarnya menyarankan. Akbar menambahkan, belilah berdasarkan kebutuhan bukan karena keinginan.

Menurut Sri, untuk menghadapi hal-hal terburuk karyawan harus melakukan analisis SWOT dan membuat pemetaan potensi diri. Pikirkan profesi lain dan mulailah mengasah potensi tersebut sebelum terlambat. “Galilah skill Anda dan cobalah poles menjadi sesuatu yang bernilai jual, latih entrepeneurship Anda agar tidak tergantung pada gaji sebagai karyawan. Lakukan dari sekarang, jangan menunggu PHK atau pensiun. Semakin Anda kaya dengan pengalaman mandiri, maka semakin siap untuk menghadapi PHK yang bisa menimpa kapan saja,” ujar Sri memaparkan.

Dari segi finansial, Sri mengajak untuk menginventarisir kembali aset yang dimiliki saat ini baik aset lancar yang mudah dicairkan bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maupun aset tidak lancar. Buatlah hitung-hitungan, berapa lama Anda bisa bertahan hidup dengan aset lancar yang Anda miliki sekarang? “Jangan mengandalkan pesangon atau dana pensiun yang didapat dari perusahaan karena perusahaan juga sedang labil,” katanya.

Sri dan Akbar sepakat bahwa sebuah keluarga harus memiliki dana cadangan paling tidak tiga bulan gaji. Harapannya, dalam waktu tiga bulan seseorang bisa mendapatkan pekerjaan pengganti. “Lebih baik lagi jika Anda menyiapkan dana cadangan untuk 6-12 bulan ke depan,” Sri menambahkan. Dalam situasi sulit sekalipun, Akbar dan Sri tetap menekankan pentingnya investasi. “Minimal 10% penghasilan wajib ditabung atau diinvestasikan. Ketika pasar finansial tidak menentu, Anda harus cermat memilih instrumen investasi,” imbuh Sri.

Untuk tujuan keuangan jangka pendek (1-3 tahun), Sri menyebutkan, sebaiknya menggunakan instrumen investasi yang konservatif seperti tabungan, deposito, dan emas. Atau, bisa juga dibelikan produk keuangan seperti ORI (Obligasi Republik Indonesia) dan sukuk yang terjamin imbal hasilnya dan minim risiko. Sedangkan untuk tujuan keuangan jangka panjang, tidak masalah bila Anda mengalokasikannya ke reksa dana, unitlink, atau saham. “Apalagi saat ini produk tersebut di pasaran sedang murah harganya. Cocok untuk investasi jangka panjang (lebih dari 5 tahun), karena dalam jangka panjang nilainya cenderung naik,” ungkap Sri.

Untuk melatih disiplin, Sri mengajak individu untuk menyusun anggaran berdasarkan pos-pos yang diprioritaskan. Ia menggambarkan, secara umum komponen anggaran dan besaran persentasenya adalah sebagai berikut: untuk zakat/perpuluhan/ kewajiban sosial berkisar 2,5%-10%, maksimum 30% untuk total cicilan/ kredit, 10%-20% untuk ditabung/ investasi, dan sisanya 40%-50 % untuk memenuhi belanja rutin dan kebutuhan hidup lain.

Komponen itu tinggal dipecah lagi ke dalam susunan anggaran yang lebih detil. Seperti pos kesehatan, pos pendidikan, dan pos liburan. Sedangkan dana darurat dibentuk oleh komponen tabungan atau investasi. Karena itu, usahakan dalam menabung disesuaikan dengan tujuan keuangan keluarga.

portalhr.com

Artikel sebelumnya

Media Partner

Edisi 66 September 2009
Pesantren, Pencetak SDM Berkualitas

Event HR

Tidak/belum ada konten atau Kategori tidak aktif