Klinik HR » HR Strategis

 

Klinik HR Strategis

Pertanyaan

Bagaimana Memimpin Orang yang Merasa Hebat?

Bagaimana memimpin orang yang merasa mapan tapi sebenarnya dia jauh tertinggal?

Pdt. Mannes Purba

Jawaban

Pak Pdt. Mannes Purba yth, terimakasih atas pertanyaannya yang sangat bagus. Permasalahan memimpin memang selalu menarik untuk dipelajari dan diketahui solusinya, walaupun memang sering tidak mudah untuk melakukannya daripada sekedar menjelaskan konsepnya saja. “Doing is more important than thinking, but doing without proper thinking will lead to failure”, itu menurut hemat saya. Sedikit mengutip perkataan dari Phil Jackson, pelatih klub basket profesional LA Lakers, yang baru saja mendapatkan cincin sebagai pelatih klub juara yang ke-10 kali, orang pertama dalam sejarah yang meraih keberhasilan memimpin tim basket seperti ini, "Keberhasilan dalam NBA bukan masalah pada apa yang akan kamu buat, melainkan pada bagaimana kamu melaksanakan itu.”

Nah, kembali ke apa yang ditanyakan, terlihat bahwa ada perbedaan persepsi mengenai diri seseorang, dari diri sendiri dengan apa yang dipersepsikan oleh orang lain, terutama pemimpinnya. Perbedaan persepsi ini yang harus pertama kali diatasi. Caranya tidak lain melalui komunikasi yang efektif antara sang pemimpin dengan orang tersebut. Ini dilakukan dengan tulus, objektif dan terbuka, agar jangan ada pretensi kedua belah pihak memaksakan persepsinya, tapi berusaha melihat dan menyadari kondisi realitas yang sebenarnya ada dalam diri orang tersebut. Agar komunikasi menjadi efektif, yang terpenting adalah menetapkan tujuan bersama apa yang mau dicapai dalam komunikasi tersebut, dan bagaimana kaitannya dengan tujuan untuk meningkatkan keberhasilan bersama untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Common goals and vision menjadi hal yang penting untuk menjalin komunikasi yang efektif.

Pada setiap orang memang harus dilatihkan kompetensi self awareness, sehingga ia dapat mengenali diri sendiri dengan baik, jujur dan objektif. If we know our self better, then we can do much better. Teknik pengenalan diri misalnya, dapat dibantu dengan alat Johari Window, yang dikembangkan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham pada 1955, tapi masih tetap relevan hingga saat ini. Mereka mengenalkan beberapa sifat-sifat dasar manusia, baik yang positif maupun negatif, untuk dikenali oleh diri sendiri, dan oleh orang lain mengenai diri seseorang. Hasilnya kemudian dipetakan ke dalam jendela Johari yang memiliki 4 bagian/kotak.

Di kotak 1, adalah sifat-sifat yang dilihat baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Ini adalah area yang memiliki persepsi yang sama, dan disebut sebagai “Arena”, dimana kedua belah pihak bisa bekerjasama dengan baik. Kotak ke-2 adalah sifat-sifat yang dilihat oleh diri sendiri, tapi tidak dilihat oleh orang lain, disebut sebagai “Facade”. Lalu kotak ke-3 adalah sifat-sifat yang dilihat oleh orang lain, tapi tidak dilihat oleh diri sendiri, disebut sebagai “Blind Spot”. Kedua kotak ini (2 dan 3) adalah area dimana terjadi perbedaan persepsi, sehingga masing-masing pihak harus berkomunikasi dan menyampaikan apa yang dilihatnya, sehingga terjadi pengenalan yang lebih baik terhadap diri orang tersebut. Terakhir, kotak ke-4 adalah sifat-sifat yang sama-sama tidak dilihat oleh baik diri sendiri maupun orang lain, disebut sebagai “Unknown”, dimana ini mungkin menjadi hal yang bisa disepakati sebagai pengembangan diri orang tersebut ke depannya.

Alat yang sederhana ini dapat membantu proses komunikasi sebagai cara untuk mulai meningkatkan self awareness dari orang tersebut, sehingga proses memimpin dapat berjalan dengan lebih baik ke depannya. Jika hal ini dilakukan dengan konfrontatif dan memaksakan kondisi “sebenarnya” yang dilihat oleh pemimpin, maka yang sering terjadi adalah penolakan oleh si orang tersebut. Sikap penolakannya bisa konfrontatif juga, sehingga berpotensi menimbulkan konflik; bisa juga penolakan secara non-konfrontatif, dimana di permukaan seolah-olah sepakat, tapi pada kenyataannya menolak untuk merubah pandangan dan tindakan sesuai dengan yang diharapkan sang pemimpin. Intinya, penyamaan persepsi melalui komunikasi yang efektif dapat menjadi fondasi yang baik dalam menjalankan fungsi kepemimpinan menuju sasaran yang ingin dicapai bersama dalam sebuah organisasi.

portalhr.com

KlinikHR Sebelumnya

Media Partner

Edisi 66 September 2009
Pesantren, Pencetak SDM Berkualitas



Event HR

Event HR

Tidak/belum ada konten atau Kategori tidak aktif

Event lainnya